Senin, 19 Oktober 2015

“Rumah Makan SumSum Sipirok Medan yang MakNyos”


Rumah makan sum-sum sipirok medan merupakan suatu rumah makan yang terletak di kota medan, meskipun namanya sipirok merupakan salah satu daerah diluar kota medan akan tetapi rumah makan tersebut ada dikota. Tidak perlu jauh-jauh ke kota sipirok kini sudah hadir.
Rumah makan sum-sum sipirok ini tidak hanya menyajikan makan sum-sum saja, akan tetapi juga menyajikan aneka makan lainnya, seperti sop sum-sum kerbau merupakan suatu menu andalan mereka, daging bakar super sambal, hidangan pelengkap mereka seperti sayur singkong, dan cabai ranjau yang ia miliki, serta gulai ikan sale juga merupakan menu andalan juga, akan tetapi tidak hanya makan yang dimiliki dari rumah makan sum-sum sipirok ini akan tetapi aneka deseart serta minuman mereka miliki.

Sop Sumsum Sipirok, Sop sumsum maha besar


Sop Sumsum Sipirok, Daging bakar

Sop Sumsum Sipirok, Hidangan pelengkap

Sop Sumsum Sipirok, Gulai ikan sale

Sop Sumsum Sipirok, Es ketimun, mak nyees


Berikut ini merupakan cerita saya ketika saya mengunji tempat ini :
Sop sumsum Sipirok terletak di Jl. Sunggal no. 14. Kami berhenti didepan rumah makan ini yang tempat parkirnya sudah dipenuhi mobil. Masuk kedalam rumah makan ini, merupakan ruangan yang besar dan luas, tanpa penyekat, penuh dengan meja kursi serta kipas angin yang terpasang dilangit-langit. Bagi teman saya, ini adalah kunjungannya yang kedua. Pada kesempatan pertama dia sudah kehabisan sop sumsum karena datang kesorean. Kebetulan hari ini adalah hari sabtu, tidak ada karyawan kantor yang secara mayoritas biasanya menyesaki tempat makan ini. Teman saya langsung memesan sop sumsum dan sop daging yang langsung diantar ke meja kami bersama menu pelengkap lainnya yaitu sepiring ikan teri, daun singkong tumbuk, tumis bunga pepaya, sepiring udang ukuran kecil-kecil banget, lalapan, dan sepiring lagi, menurut tebakan kami, adalah irisan sepotong daging dengan sambal. Ketika sop sumsum dihidangkan, kami kaget luar biasa. Bentuknya adalah sepotong tulang kaki sapi bagian bawah yang ukurannya besar banget, terus dibagian luarnya masih banyak kikil dan daging yang masih menempel ditulang. Disajikan diatas piring dengan kuah sop yang bening, serta dilengkapi dengan pisau untuk mengiris kikil dan daging yang masih menempel pada tulang, serta sedotan untuk menyedot sum-sum yang berada didalam tulang. Sop daging tak kalah hebohnya, yaitu sepiring sop kuah bening hanya berisi potongan daging sapi yang besar-besar, murni tanpa sayuran, hanya ditaburi daun bawang saja. Wah bagaimana menghabiskannya? Hmm rasanya enak banget, daging dan kikil terasa empuk dan lembut, tanpa perlu cape mengunyah. Kuah sopnya terasa murni dan segar, tidak berlemak, bumbunya sederhana tapi pas banget. Tak terasa kuah sop hampir habis tapi masih banyak kikil yang menempel. Kami pun minta tambah kuahnya lagi. Siang siang begini makan sop, peluh pun mengalir deras dari wajah kami. Ruangan yang besar dan luas serta banyaknya kipas angin tidak mampu menolong kami yang basah kuyup oleh keringat kenikmatan. Hmm nyam nyam. Hidangan yang lain tak luput kami coba. Yang pertama adalah ikan teri yaitu ikan teri goreng yang berukuran besar, ditumis bersama sedikit cabe. Rasanya tidak terlalu asin, tidak terlalu pedas, pas lah. Kedua adalah daun singkong tumbuk yang agak berkuah, karena diberi sedikit santan. Rasanya segar dan ringan, karena kuahnya cair, tidak seperti gulai daun singkong buatan RM Padang. Ketiga adalah tumis udang yang ukurannya kecil-kecil banget. Setelah ditanya, rupanya itu adalah udang kecepe. Ditumis dengan cabe dan aneka bumbu tapi tidak ada rasa yang menonjol. Hidangan lain yang tidak kami sentuh dibawa kembali oleh pelayannya. Tapi kemudian pengunjung disamping meja kami berbincang bincang dengan teman saya dan bertanya apakah sudah mencoba hidangan daging bakarnya, karena itu termasuk salah satu hidangan yang paling dicari. Loh yang mana ya, kami pun kebingungan. Oh rupanya yang kami kira adalah irisan daging ikan yang diberi sambal itu rupanya daging sapi yang dibakar lalu dipotong kotak-kotak tipis, lalu diberi sambal. Segera kami pesan kembali sepiring daging bakar, rugi dong kalau tidak dicoba. Rasa hidangan ini seru juga loh yaitu irisan daging sapi bakar yang diberi sambal cabe merah, potongan bawang merah mentah serta air jeruk nipis. Dagingnya empuk tanpa ada rasa bumbu yang menonjol berpadu dengan rasa asam dan pedas, dengan aroma bawang yang kuat. Unik tapi enak, hidangan ini langsung kami habiskan. Sebagai penutup segelas es ketimun yang berwarna hijau langsung menyegarkan tenggorokan kami, mak nyees. Satu lagi keunikan RM ini adalah pemilik RM bertindak sekaligus sebagai kasir, tidak berdiam diri dimeja kasir, melainkan berjalan-jalan memantau meja-meja para pengunjung, sambil memberi perintah langsung kepada anak pelayannya bila ada permintaan dari pengujung, sembari menyapa para pelanggan setianya, sambil membawa segepok uang hasil transaksi pembayaran para pengunjung dimejanya masing-masing. Kami hanya membayar sekitar seratus ribu lebih, karena rupanya sop tulang sumsum yang maha besar itu hanya dihargai Rp 35.000 loh. Fantastis.

Kiranya dengan memberikan sebagian informasi ini kiranya teman-teman yang lain dapat mampir ketempat ini yang tidak jauh dari kota medan dan harganya tidak terlalu mahal dan masih terjangkau. 

Minggu, 18 Oktober 2015

Salah Satu Kerajaan Yang Ada di Nusantara

Sejarah Perkembangan Kerajaan Kalingga ataupun Kerajaan Hindu-Budha Pertama di Jawa Tengah

1. Sejarah Berdirinya Kerajaan Kalingga di Indonesia
Sejarah kerajaan Kalingga dimulai pada abad ke-6 dan merupakan sebuah kerajaan dengan gaya India yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah. Belum diketahui secara pasti dimana pusat kerajaan ini berada, tapi beberapa ahli memprediksikan bahwa tempatnya ada di antara tempat yang sekarang menjadi Pekalongan dan Jepara. Tidak banyak yang dapat diketahui dari kerajaan ini karena sumber sejarah yang ada juga hampir nihil dan mayoritas catatan tentang sejarah kerajaan Kalingga didapat dari kisah-kisah Tiongkok, cerita turun-temurun rakyat sekitar, dan Carita Parahyangan yang menceritakan tentang Ratu Shima serta kaitan ratu tersebut dengan kerajaan Galuh. Ratu Shima juga dikenal karena peraturannya yang kejam dimana siapapun yang tertangkap basah mencuri akan dipotong tangannya.
Awal Berdirinya Kerajaan Kalingga diperkirakan dimulai pada abad ke-6 hingga abad ke-7. Nama Kalingga sendiri berasal dari kerajaan India kuno yang bernama Kaling, mengidekan bahwa ada tautan antara India dan Indonesia. Bukan hanya lokasi pasti ibu kota dari daerah ini saja yang tidak diketahui, tapi juga catatan sejarah dari periode ini amatlah langka. Salah satu tempat yang dicurigai menjadi lokasi ibu kota dari kerajaan ini ialah Pekalongan dan Jepara. Jepara dicurigai karena adanya kabupaten Keling di pantai utara Jepara, sementara Pekalongan dicurigai karena masa lalunya pada saat awal dibangunnya kerajaan ini ialah sebuah pelabuhan kuno. Beberapa orang juga mempunyai ide bahwa Pekalongan merupakan nama yang telah berubah dari Pe-Kaling-an.
Pada tahun 674, kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Shima yang terkenal akan peraturan kejamnya terhadap pencurian, dimana hal tersebut memaksa orang-orang Kalingga menjadi jujur dan selalu memihak pada kebenaran. Menurut cerita-cerita yang berkembang di masyarakat, pada suatu hari seorang raja dari negara yang asing datang dan meletakkan sebuah kantung yang terisi dengan emas pada persimpangan jalan di Kalingga untuk menguji kejujuran dan kebenaran dari orang-orang Kalingga yang terkenal. Dalam sejarahnya tercatat bahwa tidak ada yang berani menyentuh kantung emas yang bukan milik mereka, paling tidak selama tiga tahun hingga akhirnya anak dari Shima, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung tersebut dengan kakinya. Mendengar hal tersebut, Shima segera menjatuhkan hukuman mati kepada anaknya sendiri. Mendengar hukuman yang dijatuhkan oleh Shima, beberapa orang memohon agar Shima hanya memotong kakinya karena kakinya lah yang bersalah. Dalam beberapa cerita, orang-orang tadi bahkan meminta Shima hanya memotong jari dari anaknya.
Dalam salah satu kejadian pada sejarah kerajaan Kalingga, terdapat sebuah titik balik dimana kerajaan ini terislamkan. Pada tahun 651, Ustman bin Affan mengirimkan beberapa utusan menuju Tiongkok sambil mengemban misi untuk memperkenalkan Islam kepada daerah yang asing tersebut. Selain ke Tiongkok, Ustman juga mengirim beberapa orang utusannya menuju Jepara yang dulu bernama Kalingga. Kedatangan utusan yang terjadi pada masa setelah Ratu Shima turun dan digantikan oleh Jay Shima ini menyebabkan sang raja memeluk agama Islam dan juga diikuti jejaknya oleh beberapa bangsawan Jawa yang mulai meninggalkan agama asli mereka dan menganut Islam.
Seperti kebanyakan kerajaan lainnya di Indonesia, kerajaan Kalingga juga mengalami ketertinggalan saat kerajaan tersebut runtuh. Dari seluruh peninggalan yang berhasil ditemukan adalah 2 candi bernama candi Angin dan candi Bubrah. Candi Angin dan Candi Bubrah merupakan dua candi yang ditemukan di Keling, tepatnya di desa Tempur. Candi Angin mendapatkan namanya karena memiliki letak yang tinggi dan berumur lebih tua dari Candi Borobudur. Candi Bubrah, di lain sisi, merupakan sebuah candi yang baru setengah jadi, tapi umurnya sama dengan candi Angin.
2. Kerajaan Kalingga Dalam Catatan Bangsa Tionghoa
Kerajaan Kalingga dikenal juga dengan nama kerajaan Ho-ling oleh orang-orang Tionghoa. Menurut catatan bangsa Tionghoa, Ho-ling dipercaya muncul ketika terjadi ekspansi besar oleh dinasti Syailendra. Kisah tentang kerajaan Ho-ling mulai ditulis dalam kronik dinasti Tang yang ada pada tahun 618 hingga 906. Menurut kronik tadi, orang-orang Ho-ling dipercaya gemar makan hanya menggunakan tangan dan tanpa sendok maupun sumpit. Tertulis juga di kroik tadi bahwa para masyarakat Ho-ling suka mengonsumsi tuwak, sebuah sari buah yang difermentasikan. Ibu kota dari Ho-ling dikelilingi oleh pagar kayu, dan sang raja tinggal di sebuah istana berlantai 2 dan daun palma sebagai atapnya. Sang raja duduk pada sebuah kursi yang terbuat dari gading dan menggunakan keset yang terbuat dari bambu. Ho-ling juga diceratakan memiliki sebuah bukit yang ia namakan Lang-pi-ya. Beberapa sumber lain dari catatan Tionghoa menuliskan sebuah analisa tentang lokasi dari kerajaan Ho-ling ini. Ia menuliskan bahwa Ho-ling berlokasi di Jawa Tengah dan bahwa La-pi-ya menghadap ke arah samudra membuat lokasi Ho-ling jadi agak lebih mudah diketahui.
Raja atau ratu yang saat itu memegang kepala pemerintahan Ho-ling tinggal di kota bernama She-p’o, tapi Ki-yen kemudian memindahkan lokasi pemerintahan menuju P’o-lu-Chia-ssu. Menurut catatan, diperkirakan bahwa ada kebingungan yang meliputi masa-masa terakhir kerajaan Ho-ling atau Kalingga ini. Ada dua teori besar tentang hal ini, dimana teori yang pertama adalah ketika Sanjaya yang masih merupakan cucu dari Shima mengambil alih pemerintahan. Ia mengubah kerajaan Kalingga yang bercorak Buddha menjadi kerajaan Mataram yang memiliki corak hindu. Cerita lain tentang sejarah kerajaan Kalingga ialah tentang bagimana Patapan yang merupakan salah satu pangeran dari dinasti Sanjaya merebut kursi penguasa dan menjadi raja pada tahun 832, dimana Mataram terus menjadi pengemulasi aturan-aturan Sailendra.
3. Pengaruh Islam Terhadap Kerajaan Kalingga
Ada beberapa hal penting yang bertautan positif antara Kerajaan Kalingga yang bercorakkan Hindu Siwais dengan dunia Peradaban Islam, yaitu dalam sejarah[4] Islam pada tahun 30 Hijriyah atau 651 M Khalifah Utsman bin Affanpernah mengirimkan utusanya ke Daratan Cina dengan misi mengenalkan Islam, waktu itu hanya berselang 20 tahun dari wafanya Rasulullah SAW dan utusan tersebut sebelum sampai tujuan bersinggah dulu di Nusantara. Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan (644-657 M) juga pernah mengutus delegasinya bernama Muawiyah bin Abu Sufyan pernah mengirimkan utusanya ke tanah Jawa yaitu ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga). Hasil kunjungan duta Islam ini adalah raja Jay Shima, putra Ratu Shima dari Kalingga, masuk Islam, kemudian kalangan bangsawan Jawa yang memeluk Islam adalah Rakeyan Sancang seorang Pangeran dari Tarumanegara, Rakeyan Sancang hidup pada kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (656-661) . Rakeyan Sancang diceritakan, pernah turut serta membantu Imam Ali dalam pertempuran menalukkan Cyprus, Tripoli dan Afrika Utara, serta ikut membangun kekuasaan Muslim di Iran, Afghanistan dan Sind (644-650 M). Kemudian yang tercatat dalam sejarah raja Sriwijaya yang masuk Islam adalah Sri Indravarman setelah kerusuhan Kanton meletus dimana banyak imigran muslim Cina masuk ke wilayah Sriwijaya yang terjadi pada Islam masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (Dinasti Umayyah).
4. Peninggalan dari Kerajaan Kalingga
A. Candi
Candi Angin
Candi Angin ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Candi Bubrah
Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
B. Prasasti
Prasasti Tukmas
Prasasti Tukmas ditemukan di ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa yang berbahasa Sanskerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu
Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuna dan berasal dari sekitar abad ke-7 masehi. Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu. Kedua temuan prasasti ini menunjukkan bahwa kawasan pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang kerajaan yang bercorak Hindu Siwais. Catatan ini menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau kerajaan Medang yang berkembang kemudian di Jawa Tengah Selatan.
Prasasti Upit (disimpan di Kantor/Dinas Purbakala Jateng di Prambanan Klaten)
Kampung Ngupit merupakan daerah perdikan, yang dianugerahkan oleh Ratu Shima. Ngupit terletak di Desa Kahuman/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Prasasti tersebut semula dijadikan alas/bancik padasan tempat untuk wudlu' di Masjid Sogaten, Desa Ngawen. Dan sejak tahun 1992 sudah disimpan di Kantor Purbakala Jawa tengah di Prambanan.

Referensi
^ Drs. R. Soekmono, (1973 edisi cetak ulang ke-5 1988). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. p. 37.
^ Munoz, Paul Michel (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. pp. pages 171. ISBN 981-4155-67-5.
^ jeparabaruku.blogspot.com/2013/05/puutri-shima-sang-rratu-kejujuran.html
^ IPS Terpadu Kelas VII SMP/MTs, Penerbit Galaxy Puspa Mega:Tim IPS SMP/MTs.




Konsep dan Definisi Gotong Royong

Konsep dan Definisi Gotong Royong
Gotong royong merupakan suatu istilah asli Indonesia yang berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. Katanya berasal dari gotong = bekerja, royong = bersama. Bersama-sama dengan musyawarah, panting, pancasila, hukum adat, ketuhanan, dan kekeluargaan, gotong royong menjadi filsafat seperti yang dikemukakan oleh M.Nasroen. Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu membantu bersama.  Amal buat kepentingan semua, keringat buat kebahagiaan semua.  Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Menurut Ir Soekarno
Ada satu budaya khas Indonesia, satu kegiatan yang menjadi kunci dalam kondisi sosial dan politik dan budaya Indonesia.  Hal itu kita kenal dengan gotong royong, suatu frase yang berasal dari bahasa Jawa yaitu ngotong yang dalam bahasa Sunda berarti membawa sesuatu secara bersama-sama dan royong.  Gotong royong.  Konsep ini menggambarkan kehidupan sosial masyarakat Indonesia, diawali dari masyarakat pedesaan di Jawa sebagai bentuk hubungan sosial yang membawa masyarakat dalam sistem timbal balik dan digerakkan oleh etos umum yang ada dalam masyarakat dan kepedulian terhadap kepentingan bersama (Bowen, 1986).  Bowen lebih umum menjelaskan bahwa gotong royong merupakan sebuah tradisi yang secara terus menerus dikonstruksi baik negara dan warga lokal.  Untuk menjadi suatu proses yang mempengaruhi sistem politik dan budaya Indonesia secara dominan, Bowen mengajukan tiga proses yang berkesinambungan.  Proses pertama adalah perjanjian budaya lokal yang salah dimengerti dan berlanjut pada proses kedua yaitu munculnya konstruksi akan tradisi nasional.  Proses ketiga adalah pencantuman budaya sebagai strategi intervensi di daerah pedesaan dan mobilisasi tenaga kerja pedesaan.
Gotong Royong menggambarkan perilaku-perilaku masyarakat pertanian desa yang bekerja untuk yang lainnya tanpa menerima upah, dan lebih luas, sebagai suatu tradisi yang mengakar, meliputi aspek-aspek dominan lain dalam kehidupan sosial.  Gotong royong dapat diartikan sebagai aktivitas sosial, namun yang paling penting dalam memaknainya adalah menjadikannya filosofi dalam hidup yang menjadikan kehidupan bersama sebagai aspek yang paling penting.  Gotong royong adalah filosofi yang menjadi bagian dari budaya Indonesia, bukan hanya menjadi filosofi beberapa kelompok tertentu (Bowen, 1986).  Namun generalisasi mengenai bentuk-bentuk sosial semacam ini menimbulkan pertanyaan antara sifat alamiah timbal balik dan pekerja untuk kepentingan bersama di wilayah pedesaan di Indonesia, karena pengabaian perbedaannya cukup berrisiko.  Karena itu terdapat 3 perbedaan yang ditawarkan Bowen sebagai instrumen yang dirasa tepat untuk menjelaskan generalisasi tersebut, yang kita sebut dengan tolong menolong.
Bentuk tolong menolong pertama disebut Labor Exchange, suatu bentuk yang mengkalkulasi jumlah pekerjaan-pekerjaan yang harus dipenuhi oleh tiap orang yang berpartisipasi, baik itu individu maupun kelompok-kelompok yang bekerja secara bergiliran, dan keseimbangan labor exchange secara normatif.  Dalam antropologi ini dikenal sebagai balanced reprocity.  Bentuk kedua adalah Generalized Recipritory, tolong menolong yang didasari oleh rasa timbal balik secara yang digeneralisasikan.  Penduduk desa sebagai bagian dari komunitas memenuhi norma menolong yang lain saat ada kegiatan-kegiatan mulai dari yang sederhana seperti membetulkan atap hingga kegiatan besar seperti pernikahan.  Hal ini menimbulkan perasaan yang bukan berupa kewajiban sebagai tetangga atau orang dekat melainkan perasaan tentang bagaimana orang yang akan ditolong telah membantu kita di masa lalu.  Setiap orang dalam komunitas diharapkan untuk berkontribusi sebaik-baiknya.  Konstribusi yang mereka lakukan akan dicatat dan diingat oleh mereka yang dibantu dan pihak yang dibantu memiliki tanggung jawab untuk membalasnya di masa depan  Bentuk ketiga adalah Labor Mobilized on the Basis of Political Status, sebagai bentuk yang menekankan bahwa gotong royong terdiri dari beberapa ‘pekerja’ yang dimobilisasi untuk menjadi dasar status politik tertentu.  Di sebagian besar wilayah Jawa status sebagai pemilik modal akan secara tradisi membawa para pemilik modal tersebut kepada hak-hak langung untuk memberi perintah-perintah seperti menjaga desa di malam hari; membetulkan kanal, dam, dan jalan; ikut serta dalam kerja bakti seperti pembangunan jalan dan bangunan.
Namun sayang, gotong royong yang seharusnya mengakar pada jiwa bangsa telah salah direpresentasikan.  Dalam masa orde baru, gotong royong menjadi konsepsi akan dua proses paralel sebagai usaha perluasan kekuasaan negara.  Proses pertama adalah gotong royong yang di’resmi’kan mengurangi hubungan timbal balik diantara warga desa dan permintaan mobilisasi pekerja tergabung dalam satu nilai-nilai budaya.  Kedua adalah intervensi negara di daerah pedesaan menjadikan para pekerja yang seharusnya berpartisipasi dalam gotong royong justru digerakkan untuk tujuan pembangunan.  Dua proses diatas menggeser pengertian gotong royong menjadi aktivitas tunggal dalam komunitas masyarakat desa dan di nasionalisasikan dengan mengaburkan perbedaan-perbedaan budaya yang ada.
Koentjaraningrat (1974) dalam Bowen (1986) menyatakan bahwa gotong royong sebagai suatu sikap tolong menolong kini hanyalah sejarah.  Apakah saat ini gotong royong adalah salah satu cara yang digunakan untuk mendapatkan tenaga tambahan dalam kegiatan-kegiatan tertentu seperti masa panen, dan sebagai bentuk tolong menolong ketika tetangga atau sanak saudara mengalami kejadian-kejadian seperti pesta, kematian, bencana alam, dan kini gotong royong dan telah menjadi satu dengan sistem kerja rodi?
Gotong royong yang menjadi ciri utama manusia Indonesia pada umumnya. Dari ribuan tahun silam Indonesia telah menciptkan konsep ini. Kita bisa melihat di ritual-ritual keagamaan disana yang masih Animisme dan Dinamisme. Dalam setiap upacara keagamaan para masyarakat berbaur menjadi satu untuk bekerjasama membangun suatu tempat sumber peribadatan, ada juga saat upacara kelahiran dan kematian yang semua warga berkumpul untuk mengerjakan apa yang perlu mereka kerjakan tanpa imbalan apapun. Dalam hal indonesia sebagai negara maritim, kita bisa lihat para warga bekerja sama dalam membangun kapal-kapal, dan di pikul besama pula dalam melayarkannya kelautan lepas.
Masuknya Agama Hindu Budha dan Islam, tak serta merta membuat tradisi ini lenyap begitu saja. Banyak acara-acara keagamaan yang malah disesuaikan dengan sikap kekeluargaan ini. Misalnya dalam acara tahlilan dan yasinan-yang merupakan akulturasi-semua warga berkumpul jadi satu untuk melaksakan ritual doa bersama yang secara langsung dapat menimbulkan keterikatan batin diantara mereka, hingga memunculkan sikap “ringan sama jinjing berat sama dipikul”. Masih banyak contoh-contoh yang harmonis jika kita menghayati betul. Ada acara gugur gunung sampai seperti acara sambatan dalam masyarakat jawa yang biasanya dalam membangun rumah diundanglah seluruh warga masyarakat dan mereka saling bahu membahu membangun rumah tanpa adanya balas budi berupa uang, Contoh real yakni saat dibangunnya Masjid Agung Demak yang sejarahnya bisa kita baca sendiri. Tradisi-tradisi semacam ini masih terjaga rapi biasanya di daerah pedesaan.
Konsep ini pula yang dipilih oleh para penggerak bangsa untuk mempersatukan Indonesia merdeka. Salah satunya Bung Karno presiden pertama Republik Indonesia ini dalam gagasannya tentang Pancasila terisnspirasi dari konsep gotong-royong.  Dalam bagian lain, menurut Soekarno dapat saja Pancasila itu diperas hingga menjadi satu dan kemudian dapat dikenal dengan sebutan Gotong Royong. Konsep gotong-royong ini merupakan konsep dinamis, bahkan lebih dinamis dari perkataan kekeluargaan. Sebab konsep gotong-royong ini menggambarkan suatu usaha, satu amal, satu pekerjaan secara bersama-sama. Gotong-royong adalah pembanting tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-biantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua kebahagiaan semua. (Jebarus Felix, tanpa tahun)
Setelah itu banyak pemimpin-pemimpin kita yang menerapkan konsep kegotong-royongan dalam sistem birokrasi, mulai dari Presiden Suharto sampai ada kabinet yang dinamkan Gotong Royong yakni pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri.  Ini membuktikan bahwa teramat pentingnya konsep kegotong-royongan ini bagi bangsa Indonesia.
Mengingat arus globalisasi yang kian lama kian merasuk dalam sendi-sendi kebudayaan, maka di butuhkanlah sikap idealisme dalam bersikap. Idealisme dalam hal ini yakni bersikap tetap berfikir susuai jati diri bangsa yakni kegotong-royongan, kekeluargaan. Kita tak bisa menahan arus globalisasi masuk, tapi kita tetap bisa menyesuaikan modernitas tersebut dengan budaya sendiri. Yang artinya kita tak boleh larut dalam euforia individualitas yang semakin marak dewasa ini. Itulah yang para tokoh bangsa ini lakukan dijaman dahulu, yakni dengan senantiasa berakulturasi bukan berlarut.
Gotong royong adalah definisi dari bangsa ini.  Gotong royong telah menjadi budaya dimana masyarakat hidup dalam atmosfernya yang begitu kentara.  Pergeseran yang kini terjadi dikarenakan dinamika kehidupan sosial yang terjadi tidak seharusnya mengubah konsep gotong royong sebagai budaya khas Indonesia.  Seperti kata Soekarno, amal buat kepentingan semua, keringat buat kebahagiaan semua.  Bukankah seharusnya seperti itu kita memaknainya?
Referensi:
Bower, John R. 1986. On The Political Construction of Tradition: Gotong Royong in Indonesia, Journal of Asian Studies, Vol. XLV, No. 3, pp. 546-560 Strategic Culture
Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 [online]. dalam http://quoteindonesia.com/ soekarno-31 [diakses pada 22 Mei 2012]