Minggu, 15 November 2015

Kemandirian Bangsa Indonesia dibidang Ekonomi

Kemandirian, menurut  Sutari Imam Barnadib (1982) dalam Mu’tadin, Z meliputi “Perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi masalah/hambatan, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain”. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali yang mengatakan bahwa “Kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri”. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertian suatu keadaan dimana seseorang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya. Dengan demikian akan berperilaku yang :
  1. mampu menganbil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi,
  2. memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya,
  3. bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
Dalam konteks kebangsaan, bangsa yang mandiri itu artinya bangsa yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri dengan segala sumberdaya yang dimiliki, mampu memecahkan persoalan yang dihadapi dan mampu mengembangkan inovasi dan riset di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang akhirnya memiliki keunggulan dan daya saing. Hal ini dipertegas oleh Robert Havighurst (1972) bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu :
  1. Emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orang lain,
  2. Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang lain,
  3. Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatasi berbagai masalah yang dihadapi dan kemampuan mengembangkan daya kreasi dan inovasi.
  4. Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak menunggu aksi dari orang lain.
Memperhatikan beberapa aspek di atas, berarti kemandirian merupakan suatu sikap yang diperoleh secara komulatif selama perkembangan hidupnya dimana suatu bangsa akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi yang dihadapinya. Dengan kemandiriannya, suatu bangsa dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang lebih baik dan lebih mantap.
Indonesia adalah bangsa yang besar dengan kekayaan sumber daya alam yang sangat berlimpah. Namun kenyataannya, kekayaan tersebut tidak berbanding lurus dengan keadaan masyarakatnya dimana masyarakat miskin masih sekitar 30% dari jumlah penduduk, angka pengangguran masih tinggi dan kesempatan memperoleh pendidikan belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Dengan kata lain negara belum mampu memenuhi secara utuh yang menjadi hajat hidup orang banyak, seperti harga pangan yang melambung akibat harga minyak dunia yang tinggi, minyak goreng semakin mahal, biaya pendidikan yang semakin tak terjangkau dan krisis energi terutama listrik tinggal menunggu waktu. Pertanyaan kita, apakah bangsa ini akan terpuruk pada kondisi larang pangan, larang papan, larang sekolah dan larang-larang yang lain? Melihat kondisi SDA yang berlimpah di negeri ini sejujurnya tidak mungkin akan terjadi tetapi kenyataanya seperti itu. Apa yang mesti dilakukan? Jawabanya marilah kita mulai mandiri dari segi ekonomi.
Mandiri di bidang ekonomi adalah globalisasi membawa dampak luas pada berbagai bidang kehidupan terutama ekonomi. Globalisasi ekonomi merupakan gejala mondial yang ditandai dengan aktivitas bisnis dan perdagangan antar negara yang kian massif dan intensif. Globalisasi menafikan batas-batas negara sehingga manakala terjadi gejolak ekonomi di  suatu wilayah/regional maka akan berimbas pada perekonomian wilayah lain seperti yang terjadi saat ini ketika Amerika Serikat ditimpa kredit macet perumahan maka dampaknya terhadap perekonomian kita juga terasa yaitu penurunan nilai rupiah dan IHSG. Kita tidak bisa memungkiri bahwa faktor eksternal sangat berpengaruh dalam perekonomian negara kita terutama gejolak financial dan melambungnya harga minyak mentah dunia. Tetapi paling tidak kita harus memiliki basic sistem perekonomian yang tahan terhadap gejolak ekonomi dunia seperti yang contohkan oleh Thailand, Malaysia dan Korea yang sudah mampu keluar dari krisis tahun 1997 yang lalu.
Sebenarnya kita pernah memiliki sebuah sistem ekonomi yang disebut dengan Ekonomi Kerakyatan yang memberikan kesempatan secara luas pada masyarkat dalam kegiatan ekonomi. Ekonomi Kerakyatan adalah tatanan ekonomi dimana aset ekonomi dalam perekonomian nasional didistribusian kepada sebanyak-banyaknya warga negara (Mardi Yatmo Hutomo, BAPENAS). Secara normatif, moral filosofis sistem ekonomi kerakyatan sebenarnya sudah tercantum dalam UUD ‘45, khususnya pasal 33, yang jika disederhakanakan bermakna bahwa perekonomian bangsa disusun berdasarkan demokrasi ekonomi dimana kemakmuran rakyat banyaklah yang lebih diutamakan dibandingkan kemakmuran orang perorangan. Kemudian, karena bumi, air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah pokok-pokok atau sumber-sumber kemakmuran rakyat, maka hal tersebut berarti harus dikuasai dan diatur oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sehingga hak-hak kesejahteraan ekonomi (economic rights) bisa terpenuhi. Yang terjadi saat ini adalah sebaliknya, kemampuan masyarakat di dalam memenuhi hak kesejahteraannya begitu rendahnya. Disisi lain kepemilikan modal atas corporasi yang mengekploitasi SDA dimiliki oleh pihak asing sehingga keuntungan banyak mengalir keluar negeri. Begitu pula dengan produk barang dan jasa, hanya dikuasi oleh segelintir orang.
Menurut Laica Marzuki (penerapan sistem ekonomi kerakyatan), Fakta empirik menjelaskan bahwa, Produsen barang dan jasa privatejumlahnya terbatas. Yang memproduksi 78,5 persen output nasional dalam bentuk barang dan jasa private hanya oleh 200 orang warga negara. Sedang 21,5 persen output nasional diproduksi oleh jutaan orang warga negara melalui usaha mikro, usaha kecil dan menengah. Sementara 89,5 persen tenaga kerja yang ditawarkan di pasar input dibeli oleh 99,5 persen produsen yang outputnya hanya 21,5 persen. Sedang hanya 10,5 persen tenaga kerja yang dibeli oleh 0,5 persen produsen yang outputnya 78,5 persen. Sebaliknya, modal yang pergunakan oleh 0,5persen produsen mencapai sekitar 85 persen dari dari modal yang ada dalam perekonomian, dan tidak lebih dari 7 persen modal yang dipergunakan oleh 95,5 persen produsen. Dalam situasi yang demikian, maka diduga kuat:
-       Tidak pernah terjadi market clearing baik di pasar input maupun di pasar output,
-       Ada modal yang idle (nganggur) dalam perekonomian,
-       Ada tenaga kerja yang idle dalam perekonomian,
-       Perekonomian tidak efisien,
-       Perekonomian tidak memproduksi barang dan jasa sesuai kapasitas yang dimiliki, dan
-       Terjadi kesenjangan ekonomi antar golongan penduduk yang amat lebar.
Melihat kondisi bahwa sistem kapitalisme hanya memberikan kemakmuran pada segelintir orang (globalisasi tidak bisa melepaskan dari sisem ini), sudah saatnya pemerintah menumbuhkan kembali semangat ekonomi kerakyatan. Semangat ini dilandasi pada distribusi keadilan baru kemudian kemakmuran bukan sebalikya. Distribusi sumber-sumber ekonomi yang merata akan menciptakan pendapatan yang merata pula sehingga pada gilirannya tercipta kemakmuran.
Dengan mayoritas pelaku ekonomi kita dalah Usaha Kecil dan Menengah (UKM), sudah saatnya keberpihakan pemerintah dan Bank terhadap usaha ini lebih diintesifkan lagi. Nampaknya usaha pemerintah pada UKM dan rakyat kecil ini mulai terlihat pada program-program yang bersifat pemberdayaan masyarakat (iklannya bisa kita laihat di layar TV) dan Bank-bank juga mulai mengucurkan kredit tanpa agunan. Bahkan Presiden sendiri dalam sebuah kesempatan akan memperluas partisipasi masyaakat dalam kepemilikan Kredit Usaha  Rakyat (KUR). Tidak kalah pentingnya juga keberpihakan pada para petani yang notabene menjadi mata pencaharian dari mayoritas masyarakat Indonesia. Namun terkadang meraka juga termasuk masyarkat yang termarginalkan karena umumnya petani kita adalah petani penggarap, meskipun memiliki lahan tapi kurang dari 1 hektar sehingga hasilnya setelah dikurangi biaya produksi masih kurang dalam memenuhi kebutuhan hidup dan mebiayai pendidikan anak-anaknya. Beberap hari yang lalu di harian Kompas diberitakan bahwa lahan persawahan di wilayah Karawang sudah banyak beralih kepemilikannya pada orang-orang kaya dari Jakarta dan orang kaya setempat. Belum lagi persoalan klasik pada saat musim tanam yaitu kelangkaan pupuk serta mengalami gagal panen bila bencana banjir dan kekerangan menimpa negeri ini. Kredit Usaha Tani (KUT) yang dikucurkan menjadikan kredit macet karena ketidakmampuan petani melunasi pinjamannya. Revolusi Agraria seperti yang pernah menjadi wacana oleh sebagian masyarakat barangkali bisa menjadi solusi untuk pemerataan kepemilikan lahan meskipun gagasan ini terlalu ekstrim. Tetapi saya yakin bila pemerintah mau meningkatkat kesejahteraan petani masih ada cara lain yang lebih elegan seperti subsidi harga pupuk dan benih dan harga gabah yang wajar serta merevitalisasi peran Bulog dan KUD.
Sumber : https://harysmk3.wordpress.com/category/uncategorized/


Ajari Anak Cinta Lingkungan Demi Bumi yang Layak Tinggal Di Masa Depan dengan Meminimalisir Penggunaan Gadget

Gadget dan Individualisme. Ya, dua hal yang tidak bisa dipisahkan, di era reformasi kini perkembangan gadget semakin meningkat, banyaknya variasi gadget membuat khalayak seakan kehausan teknologi. Namun, apakah semua ini berdampak positif bagi kehidupan?. Dampak dari perkembangan teknologi masa kini tidak hanya memiliki dampak positif yaitu memudahkan bertukar informasi, memudahkan komunikasi jarak jauh, memudahkan mengerjakan sesuatu dan lain-lain.
Apakah anda pernah berfikir? perkembangan teknologi juga dapat menimbulkan dampak negatif dari para penggunanya seperti pada pemakaian gadget yang semakin hari semakin canggih menimbulkan ketergantungan hingga membuat seseorang secara tidak sengaja bersifat individualisme dan konsumerisme. Mengapa demikian?.
Karena dengan gadget yang semakin canggih, seseorang akan merasa memiliki dunia-nya sendiri. Situs jejaring sosial, Aplikasi canggih dan berbagai fitur menarik membuat sebagian orang tidak ingin lepas atau berjauhan dari gadgetnya. Mereka akan melakukan apapun agar dapat terus bermain dengan gadget masing-masing, hal ini tentu menimbulkan masalah lagi seperti konsumerisme akibat terlalu boros, ketergantungan yang berlebihan hingga hilangnya keramah tamahan antara satu individu dengan individu lain, lantaran pemikiran mereka yang sudah berubah karena terbiasa berinteraksi dengan orang lain melalui jejaring sosial online.
Secara adat, budaya kita adalah budaya yang bersifat gotong royong, bekerja sama dan bahkan bangsa kita terkenal dengan bangsa yang ramah tamah. Hal ini secara perlahan akan menghilang seiring dengan semakin berkembangnya teknologi. Perkembangan teknologi pelan-pelan menghambat seseorang untuk berinteraksi secara langsung karena terbiasa menggunakan situs online, ini adalah awalan menuju masyarakat yang individu dan semakin lunturnya budaya gotong royong.
Di samping itu, perkembangan teknologi yang termasuk dalam salah satu pembahasan mengenai globalisasi atau menyatunya dunia membuat semakin sangat mudahnya budaya kita dimasuki oleh budaya luar, pola hidup bangsa kita sudah banyak mengalami perubahan lantaran banyaknya budaya luar yang mempengaruhi pola hidup bangsa kita. Rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air semakin melemah, apalagi dikalangan remaja saat ini yang sebagiannya banyak mengikuti trend masa kini.
Terlanjur terjadi dan tidak mudah mengembalikan keadaan seperti semula, karena itu tentu membutuhkan proses yang cukup lama. Hanya saja peran pemerintah dan orangtua untuk hal ini adalah sesegera mungkin memberikan pengertian, penyuluhan dan menanamkan rasa kecintaan pada tanah air terhadap rakyatnya agar kedepannya menjadi lebih baik dan juga mengajarkan pada anak-anak bahwa bermain bersama teman lebih menyenangkan dibandingkan dengan bermain bersama gadget. Semoga tulisan saya ini dapat menginspirasi pembacanya agar lebih bijak menggunakan gadget sehingga tidak menimbulkan sifat individualisme dan konsumerisme serta tetap menjaga budaya bangsa Indonesia dengan keramah tamahannya.
Perkembangan teknologi di dunia modern memang memberikan banyak dampak positif. Namun, di balik itu, selalu ada paradoks yang menyeratai, biasanya berupa dampak negatif. Gadgetdan televisi adalah sedikit dari banyak hal yang menjauhkan anak dari dunia sesungguhnya, termasuk sosialisasi dengan orang sekitar maupun lingkungan. Padahal, sikap anak terhadap lingkungan dapat menentukan pribadinya di kala dewasa nanti. Anak lebih baik diajarkan mencintai lingkungan untuk tahu seberapa penting lingkungan bagi kehidupan. Mari menumbuhkan rasa cinta lingkungan pada anak lewat tips berikut.
1. Ajarkan anak dari sejak dini membuang sampah pada tempatnya
Meski hanya sebungkus permen atau selembar tisu bekas, barang-barang tersebut dapat menyumbang limbah yang berakibat fatal bagi kerusakan lingkungan, contohnya sampah yang bertumpuk, got yang tersumbat, hingga banjir. Ajarkan si kecil untuk cinta lingkungan dengan mulai mengajaknya membuang sampah pada tempatnya bahkan ketika sedang dalam perjalanan. Mungkin di antara kita masih terbiasa membuang sampah ke luar jendela mobil. Simpan sampah hingga kita menemukan tempat untuk membuangnya. Ajari juga cara membedakan sampah basah dan kering. Dengan cara ini, anak akan meniru dan menjadikan kita contoh.
2. Libatkan anak dalam kerja bakti minimal dalam rumah tangga
     Biasanya, setiap keluarga memiliki jadwal kegiatan membersihkan rumah bersama seperti ketika menjelang hari raya. Mulai dari membersihkan perabotan rumah hingga merapikan kebun. Kegiatan yang melelahkan, namun sekaligus menyenangkan karena setelahnya kita mendapatkan suasana baru dan bersih. Libatkan anak dalam kegiatan seperti ini, meski hanya sekadar “mengacak-acak”. Dengan cara ini, diharapkan anak mengenal akan pentingnya kebersihan lingkungan. Kita juga dapat mendorong anak untuk terlibat dalam kegiatan kerja bakti di lingkungan yang lebih besar, misal ketika menjelang hari kemerdekaan atau di sekolah.
3. Mengajak anak berliburan di wisata alam
     Wisata alam adalah cara lain untuk mengajarkan anak untuk cinta lingkungan. Selain menenangkan, wisata alam, seperti ke pantai dan pegunungan, juga memiliki keunggulan lain dibanding berlibur ke arena bermain atau mall, misalnya menemukan udara yang masih bersih dan segar, menjauh dari kebisingan dan polusi, hingga menenangkan pikiran. Jika anak suka aktivitas menantang, kita juga bisa mengajaknya terlibat dalam kegiatan outbond yang kini kian menjamur. Dengan cara ini, anak bisa memahami bahwa lingkungan yang bersih dan asri akan lebih berguna dan indah.
4. Membuat kebun kecil di rumah dan mengajarkan kecintaan terhadap tumbuhan
     Cara ampuh lainnya dalam menanamkan rasa cinta lingkungan pada anak adalah dengan membuat kebun kecil di rumah. Sisakan lahan untuk tanaman-tanaman yang dapat dirawat dan dikembangkan secara rutin. Selain menghilangkan stres, merawat tanaman juga berguna dalam memperhijau bumi, menyaring polusi, dan menciptakan pemandangan yang segar, kan. Gambarkan kesenangan ketika melihat tanaman yang kita rawat berkembang dengan baik. Melihat orang tuanya yang tampak asyik dan bahagia ketika merawat tanaman akan membuat anak tertarik untuk meniru perilaku tersebut.
5. Meminimalisir pengaruh gadget dan mengajak anak sering komunikasi
     Batasi persentase anak menggunakan gadget, menonton televisi, atau bermain games, yuk! Bukan benar-benar menjauhi, tapi mengurangi. Kemudian, ajak mereka bermain di luar rumah. Selain membuat mereka lebih mudah bersosialisasi, hal ini juga membuat mereka memaksimalkan fungsi fisik atau motorik dan mengenalkan mereka akan lingkungan. Dengan demikian, anak akan lebih aktif dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan.
6. Berlatih menggunakan listrik dan air seperlunya

     Manfaat dari pembatasan paparan gadget lainnya adalah menghemat penggunaan tenaga listrik. Anak dapat belajar bertanggung jawab dan bijak dalam menggunakan sumber daya. Hal lainnya adalah tentang air. Contohkan penggunaan air sesuai kebutuhan, misal ketika mandi keran cukup dibuka ketika dibutuhkan dan setelah selesai mandi maka keran dimatikan. Tidak harus menunggu kekeringan, kan, untuk menanamkan pembelajaran hemat air.