Minggu, 15 November 2015

Ajari Anak Cinta Lingkungan Demi Bumi yang Layak Tinggal Di Masa Depan dengan Meminimalisir Penggunaan Gadget

Gadget dan Individualisme. Ya, dua hal yang tidak bisa dipisahkan, di era reformasi kini perkembangan gadget semakin meningkat, banyaknya variasi gadget membuat khalayak seakan kehausan teknologi. Namun, apakah semua ini berdampak positif bagi kehidupan?. Dampak dari perkembangan teknologi masa kini tidak hanya memiliki dampak positif yaitu memudahkan bertukar informasi, memudahkan komunikasi jarak jauh, memudahkan mengerjakan sesuatu dan lain-lain.
Apakah anda pernah berfikir? perkembangan teknologi juga dapat menimbulkan dampak negatif dari para penggunanya seperti pada pemakaian gadget yang semakin hari semakin canggih menimbulkan ketergantungan hingga membuat seseorang secara tidak sengaja bersifat individualisme dan konsumerisme. Mengapa demikian?.
Karena dengan gadget yang semakin canggih, seseorang akan merasa memiliki dunia-nya sendiri. Situs jejaring sosial, Aplikasi canggih dan berbagai fitur menarik membuat sebagian orang tidak ingin lepas atau berjauhan dari gadgetnya. Mereka akan melakukan apapun agar dapat terus bermain dengan gadget masing-masing, hal ini tentu menimbulkan masalah lagi seperti konsumerisme akibat terlalu boros, ketergantungan yang berlebihan hingga hilangnya keramah tamahan antara satu individu dengan individu lain, lantaran pemikiran mereka yang sudah berubah karena terbiasa berinteraksi dengan orang lain melalui jejaring sosial online.
Secara adat, budaya kita adalah budaya yang bersifat gotong royong, bekerja sama dan bahkan bangsa kita terkenal dengan bangsa yang ramah tamah. Hal ini secara perlahan akan menghilang seiring dengan semakin berkembangnya teknologi. Perkembangan teknologi pelan-pelan menghambat seseorang untuk berinteraksi secara langsung karena terbiasa menggunakan situs online, ini adalah awalan menuju masyarakat yang individu dan semakin lunturnya budaya gotong royong.
Di samping itu, perkembangan teknologi yang termasuk dalam salah satu pembahasan mengenai globalisasi atau menyatunya dunia membuat semakin sangat mudahnya budaya kita dimasuki oleh budaya luar, pola hidup bangsa kita sudah banyak mengalami perubahan lantaran banyaknya budaya luar yang mempengaruhi pola hidup bangsa kita. Rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air semakin melemah, apalagi dikalangan remaja saat ini yang sebagiannya banyak mengikuti trend masa kini.
Terlanjur terjadi dan tidak mudah mengembalikan keadaan seperti semula, karena itu tentu membutuhkan proses yang cukup lama. Hanya saja peran pemerintah dan orangtua untuk hal ini adalah sesegera mungkin memberikan pengertian, penyuluhan dan menanamkan rasa kecintaan pada tanah air terhadap rakyatnya agar kedepannya menjadi lebih baik dan juga mengajarkan pada anak-anak bahwa bermain bersama teman lebih menyenangkan dibandingkan dengan bermain bersama gadget. Semoga tulisan saya ini dapat menginspirasi pembacanya agar lebih bijak menggunakan gadget sehingga tidak menimbulkan sifat individualisme dan konsumerisme serta tetap menjaga budaya bangsa Indonesia dengan keramah tamahannya.
Perkembangan teknologi di dunia modern memang memberikan banyak dampak positif. Namun, di balik itu, selalu ada paradoks yang menyeratai, biasanya berupa dampak negatif. Gadgetdan televisi adalah sedikit dari banyak hal yang menjauhkan anak dari dunia sesungguhnya, termasuk sosialisasi dengan orang sekitar maupun lingkungan. Padahal, sikap anak terhadap lingkungan dapat menentukan pribadinya di kala dewasa nanti. Anak lebih baik diajarkan mencintai lingkungan untuk tahu seberapa penting lingkungan bagi kehidupan. Mari menumbuhkan rasa cinta lingkungan pada anak lewat tips berikut.
1. Ajarkan anak dari sejak dini membuang sampah pada tempatnya
Meski hanya sebungkus permen atau selembar tisu bekas, barang-barang tersebut dapat menyumbang limbah yang berakibat fatal bagi kerusakan lingkungan, contohnya sampah yang bertumpuk, got yang tersumbat, hingga banjir. Ajarkan si kecil untuk cinta lingkungan dengan mulai mengajaknya membuang sampah pada tempatnya bahkan ketika sedang dalam perjalanan. Mungkin di antara kita masih terbiasa membuang sampah ke luar jendela mobil. Simpan sampah hingga kita menemukan tempat untuk membuangnya. Ajari juga cara membedakan sampah basah dan kering. Dengan cara ini, anak akan meniru dan menjadikan kita contoh.
2. Libatkan anak dalam kerja bakti minimal dalam rumah tangga
     Biasanya, setiap keluarga memiliki jadwal kegiatan membersihkan rumah bersama seperti ketika menjelang hari raya. Mulai dari membersihkan perabotan rumah hingga merapikan kebun. Kegiatan yang melelahkan, namun sekaligus menyenangkan karena setelahnya kita mendapatkan suasana baru dan bersih. Libatkan anak dalam kegiatan seperti ini, meski hanya sekadar “mengacak-acak”. Dengan cara ini, diharapkan anak mengenal akan pentingnya kebersihan lingkungan. Kita juga dapat mendorong anak untuk terlibat dalam kegiatan kerja bakti di lingkungan yang lebih besar, misal ketika menjelang hari kemerdekaan atau di sekolah.
3. Mengajak anak berliburan di wisata alam
     Wisata alam adalah cara lain untuk mengajarkan anak untuk cinta lingkungan. Selain menenangkan, wisata alam, seperti ke pantai dan pegunungan, juga memiliki keunggulan lain dibanding berlibur ke arena bermain atau mall, misalnya menemukan udara yang masih bersih dan segar, menjauh dari kebisingan dan polusi, hingga menenangkan pikiran. Jika anak suka aktivitas menantang, kita juga bisa mengajaknya terlibat dalam kegiatan outbond yang kini kian menjamur. Dengan cara ini, anak bisa memahami bahwa lingkungan yang bersih dan asri akan lebih berguna dan indah.
4. Membuat kebun kecil di rumah dan mengajarkan kecintaan terhadap tumbuhan
     Cara ampuh lainnya dalam menanamkan rasa cinta lingkungan pada anak adalah dengan membuat kebun kecil di rumah. Sisakan lahan untuk tanaman-tanaman yang dapat dirawat dan dikembangkan secara rutin. Selain menghilangkan stres, merawat tanaman juga berguna dalam memperhijau bumi, menyaring polusi, dan menciptakan pemandangan yang segar, kan. Gambarkan kesenangan ketika melihat tanaman yang kita rawat berkembang dengan baik. Melihat orang tuanya yang tampak asyik dan bahagia ketika merawat tanaman akan membuat anak tertarik untuk meniru perilaku tersebut.
5. Meminimalisir pengaruh gadget dan mengajak anak sering komunikasi
     Batasi persentase anak menggunakan gadget, menonton televisi, atau bermain games, yuk! Bukan benar-benar menjauhi, tapi mengurangi. Kemudian, ajak mereka bermain di luar rumah. Selain membuat mereka lebih mudah bersosialisasi, hal ini juga membuat mereka memaksimalkan fungsi fisik atau motorik dan mengenalkan mereka akan lingkungan. Dengan demikian, anak akan lebih aktif dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan.
6. Berlatih menggunakan listrik dan air seperlunya

     Manfaat dari pembatasan paparan gadget lainnya adalah menghemat penggunaan tenaga listrik. Anak dapat belajar bertanggung jawab dan bijak dalam menggunakan sumber daya. Hal lainnya adalah tentang air. Contohkan penggunaan air sesuai kebutuhan, misal ketika mandi keran cukup dibuka ketika dibutuhkan dan setelah selesai mandi maka keran dimatikan. Tidak harus menunggu kekeringan, kan, untuk menanamkan pembelajaran hemat air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar