Minggu, 10 Januari 2016

Menantikan Pembangunan Transportasi yang Efektif, Efisiensi, dan Menginspirasi masyarakat terhadap tingkat kemajuan suatu negara


Transportasi merupakan satu di antara berbagai masalah yang selalu menghantui kota-kota besar dunia, termasuk di Indonesia. Dampak urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di kota-kota besar yang sangat cepat menuntut pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan transportasi massal yang nyaman dan aman untuk beraktivitas.
Efisiensi, efektif dan menginspirasi adalah suatu ukuran besarnya biaya  (dalam rupiah, waktu, energi atau tambahan lainnya) untuk menggerakkan sesuatu dalam hal ini bisa (penumpang ataupun barang) dari satu tempat ke tempat lain. Efisiensi transportasi ini tergantung kepada karakteristik mode angkutan yang digunakan, sebagai contoh suatu kapal akan semakin efisien kalau ukuran kapalnya semakin besar untuk perjalanan jarak jauh dan permintaannya besar.
Semakin lama, perkembangan penduduk akan semakin mengarah ke perkotaan. McKinsey Global Institute (2012) merilis bahwa pada tahun 2030, 71 persen penduduk tinggal di kota. Padahal, sekarang dengan “hanya” 53 persen penduduk berada di kota saja, kondisi kota sudah cukup semrawut. Kemacetan dan buruknya layanan transportasi seakan sudah menyatu dengan wajah kota di Indonesia.
Di berbagai kota, masyarakat belum mendapatkan fasilitas angkutan umum yang cepat, murah, memiliki kepastian harga dan waktu, serta menjangkau seluruh sudut kota. Alhasil, kendaraan pribadi menjadi solusi utama. Pilihan yang justru menciptakan bom waktu yang siap meledak.
Ledakan (konsekuensi) yang paling dekat akan terjadi di Jakarta dan Surabaya. Rata-rata laju kendaraan di kedua kota itu sudah demikian lambat—dan diperkirakan, dalam beberapa tahun mendatang kendaraan tidak akan bergerak—dan rasio jalan-berhenti makin meningkat. Orang-orang rugi karena banyaknya waktu yang hilang dalam perjalanan. Penggunaan bahan bakar minyak semakin boros. Investor pun berpikir ulang jika ingin berbisnis. Semua itu merupakan ekses dari sistem transportasi perkotaan yang gagal terbangun.
Seperti sudah menjadi tradisi, perencanaan kota selalu tertinggal dari pembangunan kota itu sendiri. Pemerintah kota terlambat mengantisipasi peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan akses transportasi warga. Saat pemerintah tersadar, berbagai hitungan pembangunan infrastruktur sudah tidak masuk akal untuk dikerjakan: harga tanah yang sangat mahal, pengintegrasian kawasan yang sulit, dan menyediakan sistem transportasi massal yang memakan waktu lama.
1. Efisien, efektif dan menginspirasi bahan bakar untuk transportasi
Sektor transportasi merupakan sektor pengguna terbesar BBM (56 persen) dan paling boros BBM, dan hal ini menjadi masalah sewaktu harga bahan bakar dunia melonjak dengan tajam pada tahun 2008 sehingga perlu diambil langkah untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan bahan bakar yang antara lain dapat dilakukan dengan:
·         optimasi ukuran angkutan dengan memperhatikan besarnya permintaan dan jarak yang akan ditempuh,
·         pengembangan penggunaan angkutan massal disertai dengan langkah untuk pembatasan penggunaan kendaraan pribadi,
·         pemanfaatan sistem angkutan multi mode yang dapat dipertukarkan seperti angkutan petikemas yang dapat diangkut dengan truk peti kemas, kereta api dan kapal laut. yang pada gilirannya akan mengakibatkan penghematan penggunaan bahan bakar.

2. Kapasitas angkut dan demand yang efisiensi, efektif dan menginspirasi
Dalam penetapan dimensi alat angkut sangat dipengaruhi oleh besarnya demand. Pada demand yang kecil lebih optimal menggunakan angkutan dengan kapasitas yang kecil, dan untuk demand yang besar digunakan kapasitas angkutan yang besar. Dengan semakin besarnya alat angkut yang digunakan perlu dilakukan penyesuaian prasarananya, sebagai contoh kalau pelabuhan akan mengalihkan angkutan ke angkutan peti kemas maka pelabuhan harus menggunakan perangkat bongkar muat yang sesuai pula apakah menggunakan kran biasa pada pelabuhan kecil atau menggunakan kran peti emas untuk pelabuhan dengan demand yang besar, dan ini masih harus didukung dengan lapangan penumpukan peti kemas serta perangkat pemindahan peti kemas yang sesuai pula. Demikian juga dengan semakin besar demand maka kapalnya akan semakin besar berarti perlu disesuaikan pula kedalaman alur pelayaran dan kolam pelabuhan
3. Salah satu contoh membangun transportasi yang efisien, efektif, dan meginspirasi masyarakat
Jakarta sebagai ibukota Negara dan merupakan salah satu pusat bisnis penting di Asia Tenggara tak lepas dari permasalahan kemacetan dan kondisi transportasi massal yang kurang memadai. Hal ini terutama disebabkan karena terbatasnya jumlah angkutan massal dan buruknya kondisi sarana dan prasarana transportasi.
Sementara pertumbuhan jalan-jalan di kota selalu tertinggal dibandingkan pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor. Sehari, bisa terdapat 5.500 hingga 6.000 kendaraan bermotor baru meluncur di Jakarta menurut data Polda Metro Jaya. Pertumbuhannya mencapai 12 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan jalannya hanya 0,01 persen.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan transportasi yang efektif dan efisien, pemerintah sedang membangun Mass Rapid Transit (MRT), yang sudah mulai dikerjakan sejak Jokowi masih menjabat Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Terbatasnya lahan yang tersedia di Jakarta, khususnya di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, mengakibatkan pembangunan rel bawah tanah untuk sebagian proyek MRT menjadi solusi. “Saya kira semua kota-kota besar di seluruh dunia seperti itu,” ujar Presiden.
Namun, ada juga tujuan lain yang hendak dicapai pemerintah. Pembangunan MRT di Jakarta, sebagai moda transportasi massal yang terintegrasi dengan moda transportasi lainnya dan terkoneksi dengan pusat-pusat bisnis diharapkan menginsipirasi pemerintah daerah, di sejumlah kota besar di Indonesia, dalam membangun moda transportasi massal. Inspirasi ini penting untuk menunjukkan bahwa transportasi massal modern yang nyaman dan dapat diandalkan memang bisa diwujudkan di Indonesia – sebab bagaimanapun, lebih mudah untuk mengerjakan sesuatu berdasarkan contoh ketimbang harus memulainya dari awal.
“Saya ingin pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) ini bisa menjadi contoh kota-kota lain di Indonesia yang ingin membangun kereta bawah tanahnya,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) di lokasi Stasiun MRT Senayan yang tengah dibangun, Rabu (23/12/2015).
Soal yang selama ini menghambat realisasi pembangunan MRT di Jakarta, sesungguhnya terkait dengan hitung-hitungan ekonomis, alias perhitungan untung-rugi. Dalam kacamata yang demikian, pemerintah memang diperkirakan mengalami kerugian jika membangun MRT. Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan infrastruktur maupun pengadaan unit pengangkutannya dianggap tidak akan dapat tergantikan dengan cepat jika mengandalkan penjualan tiket – kecuali tiketnya dipatok dengan harga tinggi, namun dengan risiko merugikan kelas menengah ke bawah, terlebih kaum pekerja.
Inilah yang menjelaskan mengapa selama puluhan tahun – tepatnya 26 tahun – MRT tak jadi dibangun meskipun perencanaannya sudah dilakukan.
Tapi dengan menggunakan perspektif jangka panjang, maka keputusan untuk segera membangun MRT adalah tepat. Setidaknya, agar pemerintah tidak terus menambah banyak tumpukan masalah atau dampak buruk dari kemacetan, seperti polusi, stres dan hilangnya waktu-waktu yang produktif dan berharga setiap harinya.
“(Kalau) selalu dihitung untung-ruginya, memang kalau (soal) profit tidak akan untung. Tapi jangan mikir ke sana, pikir itu benefit-nya, untuk negara, untuk kota kita,” kata Presiden sewaktu memantau perkembangan pembangunan MRT di Patung Pemuda Senayan, Jakarta, pada Senin, 21 September 2015. Presiden berharap proyek MRT bisa selesai seluruhnya 2-3 tahun mendatang. “Kita harapkan selesai pengeborannya pada 2016 ini, seluruhnya. Terowongan sudah jadi,” kata Presiden. Salah satu contoh lainnya yaitu menantikan pembangunan transportasi yang efektif, efisien dan menginspirasi yaitu
A. BRT
Namun, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Mulai tahun 2004, jalanan Jakarta disemarakkan dengan keberadaan Trans-Jakarta, layanan transportasi massal berbasis bus / bus rapid transit (BRT). Awalnya, ada lima belas koridor Trans-Jakarta yang direncanakan terbangun pada 2010. Meskipun target pembangunan tidak terpenuhi, model BRT yang diadaptasi dari Trans-Milenio di Bogota itu mulai dilirik kota-kota lain untuk diterapkan.
Kini, pola operasi BRT makin beraneka ragam dan tersebar di banyak kota. Selain Jakarta, Yogyakarta dan Semarang adalah kota yang paling efektif menggunakan BRT sebagai moda transportasi massalnya. Di kota-kota lain, penerapan BRT masih terkesan sporadis. Misalnya, jumlah rute yang hanya satu atau dua, tidak adanya sinkronisasi dengan jenis angkutan lain (bus kota, mikrolet, dan kereta api komuter), dan tidak dilakukan pengembangan layanan. Padahal, kunci keberhasilan BRT terletak pada integrasi dan jangkauan.
Walaupun BRT merupakan model transportasi massal yang paling murah, ternyata tidak seluruh kota mampu mewujudkannya. Maka, pada tahun 2015 ini pemerintah pusat mulai membagikan 1.000 bus untuk dioperasikan sebagai BRT di berbagai kota. Dengan bantuan sarana, pemerintah kota yang mendapat hibah seharusnya dapat lebih berkonsentrasi pada penyediaan prasarana (jalan dan halte) dan manajemen BRT yang baik. Jangan sampai keberadaan BRT tidak berdampak apapun terhadap peningkatan kualitas transportasi umum perkotaan.
Sayangnya, transportasi massal berbasis bus tidak efisien dalam batas tertentu. Dengan daya tampung hanya 50 orang untuk bus sedang dan 80 orang untuk bus besar, penyelenggara BRT harus mengoperasikan banyak sekali armada demi mengurangi penumpukan penumpang. Akan tetapi, penambahan armada malah akan mengakibatkan penumpukan di titik-titik perhentian (halte dan persimpangan jalan) yang pada akhirnya akan memperlama waktu tempuh. Pengguna pun sulit mendapatkan kepastian waktu berangkat dan tiba karena bus masih mendapatkan gangguan dari moda transportasi lain di jalan.
B. Kereta Api
Perkotaan Pilihan moda berikutnya adalah kereta api. Penentuan jenis kereta yang digunakan akan sangat bergantung pada kebutuhan suatu kota. Dengan jumlah pengguna yang belum terlalu banyak atau sebagai angkutan pengumpan, light rapid transit (LRT) dapat menjadi pilihan, baik yang berjalan dengan rel tunggal maupun rel standar. Untuk rute gemuk, bisa memakai mass rapid transit (MRT). Perbedaan LRT dan MRT umumnya terdapat pada kapasitas kereta. Sebuah rangkaian LRT membawa 2—4 kereta, sementara MRT membawa 8—12 kereta.
Jakarta dan sekitarnya sebenarnya telah memiliki MRT, yaitu KRL Jabodetabek. Hanya saja, baru beberapa tahun belakangan kapasitas KRL ditingkatkan sebagai kereta api komuter. Sekarang, MRT berikutnya sedang dibangun dengan konsep yang lebih baik (tidak bersinggungan dengan jalan, sehingga tidak ada yang menganggu perjalanan kereta api) dengan rute Lebak Bulus—Bundaran HI.
Masalah utama pembuatan angkutan perkotaan berbasis kereta adalah biaya. Surabaya, dengan proyek Surotram (trem yang menyatu dengan jalan, beroperasi utara—selatan) dan Boyorail (monorel dengan konstruksi melayang, beroperasi timur—barat) membutuhkan triliunan rupiah untuk pembangunan. Selain itu, dipastikan harga tiketnya pun akan lebih mahal daripada moda BRT.
Pemerintah kota dihadapkan pada kebutuhan dana untuk biaya investasi dan subsidi, jika konsepnya kurang menguntungkan bila dikerjakan investor. Karena beban biaya itulah, jarang ada kota yang berani bermimpi membangun MRT atau LRT. Jakarta, Surabaya, dan Bandung masih merupakan perintis kereta api perkotaan.
Di lain sisi, sumber daya manusia di tingkat kota pun sedikit. Dapat dibanyangkan bagaimana gegar budaya yang terjadi jika petugas dinas perhubungan yang biasanya hanya menangani mobil penumpang umum kecil, bus umum, dan perparkiran, harus pula memikirkan konsep kereta api perkotaan. Oleh sebab itu, pemerintah pusatlah yang harus mengadakan studi dan perencanaan, dan selanjutnya mentransfer pengetahuan kepada aparat-kota terpilih.
4. Perbaikan dari sekarang demi membangun transpotasi yang efisien, efektif dan menginspirasi masyarakat
Kota-kota yang masih cukup lengang dan cukup dilayani dengan mobil penumpang umum kecil juga harus berbenah mulai sekarang. Jangan sampai keberadaan angkutan umum justru menjadi biang dari kemacetan. Angkutan umum harus cepat, murah, memiliki kepastian harga dan waktu, serta menjangkau seluruh sudut kota. Empat faktor tersebut harus senantiasa mejadi pegangan pemerintah kota dalam menata sistem transportasi umum di kotanya.
Pemerintah kota harus menyelenggarakan riset yang berulang untuk mengetahui potensi penumpang, pola berpergian warga, kelayakan jalan, dsb. Data riset itulah yang nantinya diolah untuk menjadi trayek angkutan kota dan kebutuhan angkutan kota di tiap trayeknya. Pengabaian riset dapat menjadi hal serius. Bogor contohnya, 23 trayek angkutan kota hanya menjangkau 50 persen wilayah. Jumlah angkutan kota yang beroperasi pun melebihi kebutuhan.
Selain itu, perlu pula ditegakkan peraturan kepemilikan angkutan kota oleh badan hukum sesuai UU LLAJ. Selain mempermudah pengawasan dari regulator, pemerintah kota pun dapat lebih mudah untuk melakukan intervensi, misalnya dengan cara membayar layanan per kilometer (seperti yang dilakukan kepada Trans-Jakarta) dan merestrukturisasi rute sehingga dapat menyesuaikan perkembangan kota.
                                    http://www.presidenri.go.id/infrastruktur/membangun-transportasi-publik-yang-menginspirasi.html
                                    http://www.kompasiana.com/bayumw/menanti-transportasi-perkotaan-modern_55d44a09e7afbd8d0cf49de7



Tidak ada komentar:

Posting Komentar